Pages

Kamis, 20 Januari 2011

Biografi Jalaludin Rumi

Jalaludin Rumi


Mawlana Jalaludin Rumi
Oleh Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani
( Grandson of Mawlana Rumi )
“Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan,
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih
jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap
orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih
yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai, dia
begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna.
Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang
tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan
mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika
kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.
( Sulthanul Awliya Mawlana Syaikh Nazhim Adil
al-Haqqani – Cucu dari Mawlana Rumi, Lefke, Cyprus
Turki, September 1998)
————————————–

Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi juga seorangtokoh sufi yang berpengaruh di zamannya. Rumi adalah
guru nomor satu Thariqat Maulawiah, sebuah thariqat
yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah
sekitarnya. Thariqat Maulawiah pernah berpengaruh
besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan
kalangan seniman sekitar tahun l648.


Biografi KH. Hasyim Asyari

Biografi KH. Hasyim Asyari

 Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari lahir pada hari Selasa Kliwon, 24 Dzulqa’dah 1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871 M di Desa Gedang, satu kilometer sebelah utara Kota Jombang, Jawa Timur. Ayahnya bernama Kiai Asy’ari berasal dari Demak, Jawa Tengah. Ibunya bernama Halimah, puteri Kiai Utsman, pendiri Pesantren Gedang.
Dilihat dari garis keturunan itu, beliau termasuk putera seorang pemimpin agama yang berkedudukan baik dan mulia. KHM. Hasyim Asy’ari merupakan keturunan kesepuluh dari Prabu Brawijaya VI (Lembupeteng). Garis keturunan ini bila ditelusuri lewat ibundanya sebagai berikut: Muhammad Hasyim bin Halimah binti Layyinah binti Sihah bin Abdul Jabar bin Ahmad bin Pangeran Sambu bin Pangeran Nawa bin Joko Tingkir alias Mas Karebet bin Prabu Brawijaya VI.

Senin, 25 Oktober 2010

MANUSIA DAN CINTA KASIH

A. Cinta Kasih
Kata cinta, selain mengandung unsur perasaan aktif, juga menyatakan tindakan yang aktif. Pengertiannya sama dengan kasih sayang sehingga, kalau seseorang mencintai orang lain, artinya orang tersebut berperasaan kasih sayang atau berperasaan suka terhadap orang lain tersebut. Cinta memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia, sebab cinta merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak, hubungan yang erat di masyarakan dan hubungan manusiawi yang akrab. Demikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dengan Tuhannya sehingga manusia menyebah Tuhan dengan ikhlas, mengikut perintah-Nya, dan berpegang teguh pada syariat-Nya.

FILSAFAT EMANASI, JIWA, KENABIAN DAN POLITIK
MENURUT SANG FILOSOF MUSLIM AL-FARABI

PENDAHULUAN

Filsafat sebagai dalam dunia Islam telah membuktikan dirinya sebagai penggerak utama bagi pengetahuan yang kemudian menjadi pondasi bagi peradaban Islam. Filsafat cukup digandrungi oleh sebagian intelektual Islam pada masa dahulu hingga sekarang. Al-Farabi merupakan seorang filosof muslim sebagai penerus tradisi intelektual Al-Kindi, namun dengan kemampuan, kreativitas, kebebasan berpikir dan tingkat sofistikasi yang lebih mendalam lagi. Jika al-Kindi dipandang sebagai seorang filosof Muslim dalam arti kata yang sebenarnya, Al-Farabi disepakati sebagai peletak sesungguhnya dasar piramida studi falsafah dalam Islam.
Al-Farabi dalam dunia intelektual Islam mendapat kehormatan dengan julukan al-Muallim al-Sany (Guru Kedua). Penilaian ini dihubungkan dengan jasanya sebagai penafsir yang baik dari logika Aristoteles. Oemar Amin Hoesin berargumen, seolah-olah Aristoteles dalam dunia filsafat telah usai dan tugas itu diemban Al-Farabi sebagai guru kedua. Al-Farabi berkeyakinan bahwa aliran filsafat yang bermacam-macam itu hakikatnya hanya satu, yaitu sama-sama mencari kebenaran yang satu, karena tujuan filsafat ialah memikirkan kebenaran, sedangkan kebenaran itu hanya satu macam dan serupa pada hakikatnya. Kalaupun berbeda, hanya pada lahirnya. Upayanya ini terealisasi ketika ia mendamaikan pemikiran Aristoteles dengan Plato dalam bukunya yang populer al-Jam’ bain al-Ra’yai al-Hakimain, dan antara filasafat dan agama.
Sebagaimana filosof Yunani, Al-Farabi menguasai berbagai disiplin ilmu. Keadaan ini memungkinkan karena didukung oleh ketekunan dan kerajinanya serta ketajaman otaknya.
Dalam makalah ini membahas pemikiran-pemikiran Al-Farabi tentang teori emanasi, filsafat jiwa, filsafat kenabian dan filsafat politik.


 
Blogger Templates