Pages

Senin, 12 September 2011

Tafakur




Sesungguhnya, dalam tatanan langit dan bumi serta keindahan pikiran dan kejadian ciptaan-Nya, juga dalam silih bergantinya siang dan malam secara teratur sepanjang tahun yang dapat kita rasakan langsung pengaruhnya pada tubuh kita dan cara berpikir kita karena pengaruh panas matahari, dinginnya malam, dan pengaruhnya yang ada pada dunia flora dan fauna dan sebagainya, merupakan tanda dan bukti yang menunjukkan keesaan Allah, kesempurnaan pengetahuan dan kekuasaan-Nya.[1]
        Ayat ini merupakan awal ayat – ayat penutup Surat Ali Imraan, dimana pada ayat ini Allah SWT memerintahkan kita untuk melihat, merenung dan mengambil kesimpulan pada tanda – tanda ketuhanan. Karena tanda – tanda tersebut tidak mungkin ada kecuali diciptakan oleh yang hidup, yang mengurusinya. Yang suci, Yang menyelamatkan, Yang maha kaya dan tidak membutuhkan apapun yang ada di alam semesta ini. Dengan meyakini hal tersebut maka keimanan mereka bersandarkan atas keyakinan yang benar, dan bukan hanya sekedar ikut – ikutan. Pada ayat ini Allah SWT menyebutkan

Adakah dikotomi ilmu pengetahuan dalam Islam ?



Alquran dan al-Sunnah sesungguhnya tidak membedakan antara ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum. Yang ada dalam Alquran adalah ilmu. Pembagian adanya ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu umum adalah merupakan hasil kesimpulan manusia yang mengidentifikasi ilmu berdasarkan objek kajiannya. [1]
Semua ilmu yang ada pada hakekatnya berasal dari Allah, karena sumber-sumber ilmu tersebut berupa wahyu, alam jagat raya (termasuk hukum-hukum yang ada di dalamnya), manusia dengan perilakunya, akal pikiran dan intusi batin seluruhnya ciptaan dan anugerah Allah yang diberikan kepada manusia. Dengan demikian, para ilmuan dalam berbagai bidang ilmu tersebut sebenarnya bukan pencipta ilmu tetapi penemu ilmu, penciptanya adalah Tuhan. Atas dasar tauhid tersebut maka seluruh ilmu hanya dibedakan dalam nama dan istilahnya saja, sedangkan hakekatnya dan substansi sebenarnya berasal dari Tuhan. Atas dasar pandangan ini, maka tidak ada pandangan dikotomis yang mengistimewakan antara ilmu atas ilmu yang lain.[2]

Tafsir QS. At Taubah ayat 122


KEWAJIBAN BELAJAR MENGAJAR AGAMA
QS. AT-TAUBAH AYAT 122


  1. Ayat dan Terjemahannya


Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.[1]

  1. Asbabun Nuzul
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Ikrimah’ bahwa ketika turun ayat, “Jika kami tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih...” (at-Taubah:39)—padahal waktu itu sejumlah orang tidak ikut pergi berperang karena sedang berada di padang pasir untuk mengajar agama kepada kaum mereka—maka orang-orang munafik mengatakan, -- “Ada beberapa orang di padang pasir tinggal (tidak berangkat perang). Celakalah orang-orang padang pasir itu”. Maka turunlah ayat, “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang).... 
Ia meriwayatkan dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, katanya, “Karena amat bersemangat untuk berjihad, apabila Rasulullah mengirim suatu regu pasukan, kaum muslimin biasanya ikut bergabung ke dalamnya dan meninggalkan Nabi saw di Madinah bersama sejumlah kecil warga. Maka, turunlah ayat ini.[2]

 
Blogger Templates